Print this page

Manfaat pemeriksaan Laboratorium Featured

Ditulis Oleh | Kamis, 26 Juli 2018 06:40 | Dibaca : 8873 Kali | Terakhir Diperbaharui : Kamis, 26 Juli 2018 07:12
Beri Rating
(0 votes)
petugas Laboratorium Puskesmas Bakunase petugas Laboratorium Puskesmas Bakunase dok.puskesmas bakunase

Pemeriksaan Laboratorium sebagai pemeriksaan untuk menunjang diagnosis penyakit, guna mendukung atau menyingkirkan diagnosis lainnya. Pemeriksaan laboratorium merupakan penelitian perubahan yang timbul pada penyakit dalam hal susunan kimia dan mekanisme biokimia tubuh (perubahan ini bisa penyebab atau akibat).


Pemeriksaan laboratorium juga sebagai ilmu terapan untuk menganalisa cairan tubuh dan jaringan guna membantu petugas kesehatan dalam mendiagnosis dan mengobati pasien. Pada umumnya diagnosis penyakit dibuat berdasarkan gejala penyakit (keluhan dan tanda), dan gejala ini mengarahkan dokter pada kemungkinan penyakit penyebab. Hasil pemeriksaan laboratorium dapat menunjang atau menyingkirkan kemungkinan penyakit yang menyebabkan, misalnya dalam pemeriksaan biakan darah pada demam tifoid, jika positif amat mendukung diagnosis, tapi bila negatif tak menyingkirkan diagnosis demam tifoid jika secara klinis dan pemeriksaan lain (misalnya pemeriksaan Widal) menyokong.

 

Dalam diagnosis penyakit kadang-kadang tidaklah mudah, terutama pada permulaan penyakit, gejala klinis penyebabnya masih berupa kemungkinan, meski dokter biasanya dapat menetapkan kemungkinan yang paling tinggi. Karena itu, pada tahap permulaan dokter tidak selalu dapat menentukan diagnosis penyakit. Diperlukan data-data tambahan dari pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lain.

 

Menurut Henry dan Howanitz, para dokter memilih dan mengevaluasi uji-uji laboratorium dalam perawatan pasien sekurang-kurangnya satu dari alasan-alasan berikut ini:

 

  1.     Untuk menunjang diagnosis klinis
  2. Untuk menyingkirkan kemungkinan suatu diagnosis atau penyakit
  3. Untuk digunakan sebagai pedoman terapi atau manajemen
  4. Untuk digunakan sebagai panduan prognossi
  5. Untuk mendeteksi suatu penyakit (uji saring)

 

Pemeriksaan laboratorium memiliki fungsi dan manfaat sebagai berikut:  

 

  1.  Skrining atau uji saring adanya penyakit subklinis, dengan tujuan menentukan resiko terhadap suatu penyakit dan mendeteksi dini penyakit terutama bagi individu beresiko tinggi (walaupun tidak ada gejala atau keluhan). 
  2. Konfirmasi pasti diagnosis, yaitu untuk memastikan penyakit yang diderita seseorang, berkaitan dengan penanganan yang akan diberikan dokter serta berkaitan erat dengan komplikasi yang mungkin saja dapat terjadi menemukan kemungkinan diagnostik yang dapat menyamarkan gejala klinis  
  3. Membantu pemantauan pengobatanMenyediakan informasi prognosis atau perjalanan penyakit, yaitu untuk memprediksi perjalanan penyakit dan berkaitan dengan terapi dan pengelolaan pasien selanjutnya
  4. Memantau perkembangan penyakit, yaitu untuk memantau perkembangan penyakit dan memantau efektivitas terapi yang dilakukan agar dapat meminimalkan komplikasi yang dapat terjadi. Pemantauan ini sebaiknya dilakukan secara berkala.
  5. Mengetahui ada tidaknya kelainan atau penyakit yang banyak dijumpai dan potensial membahayakan  
  6. Memberi ketenangan baik pada pasien maupun klinisi karena tidak didapati penyakit

 

Beberapa Contoh Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksan laboratorium dilakukan melalui prosedur pemeriksaan khusus dengan mengambil bahan atau sample dari penderita, yang dapat berupa darah, urine (air kencing), faeces, sputum (dahak), atau sample dari hasil biopsy.

 

  1.   Pemeriksaan Hematologi, dapat berupa: a. panel pemeriksaan demam, untuk mengetahui adanya penyakit infeksi yang dapat menimbulkan demam. Beberapa penyakit yang dapat menimbulkan demam adalah: bakteri/kuman menyebab infeksi saluran napas (TBC, Bronchitis), saluran kemih, saluran pencernaan (demam tifoid), darah (demam berdarah, malaria), dan lain-lain; b. pemeriksaan fungsi hati dan pertanda hepatitis, untuk mengetahui adanya radang hati dan adanya gangguan pada fungsi hati; c. pemeriksaan fungsi ginjal dan pemeriksaan kimia darah, untuk faal ginjal; d. pemeriksaan metabolisme gula, untuk diagnosis dan follow up kadar gula darah; e. pemeriksaan metabolisme lemak, untuk mengetahui kadar lemak darah untuk mendeteksi resiko terhadap kejadian penyakit; f. pemeriksaan elektrolit darah
  2. Pemeriksaan Imunoserologi 
  3. Pemeriksaan Radiologi: meliputi pemeriksaan rontgen, ultrasonografi (USG), computed tomography (CT Scan), magnetic resonance imaging (MRI), intravenous pyelography (IVP), dan sebagainya. Dengan berbagai macam pemeriksaan radiologi ini dapat diketahui adanya anomali organ, massa, peradangan, perdarahan, sampai pada penilaian fungsi ekskresi dan kerusakan struktur organ.
  4. Pemeriksaan urine
  5. Pemeriksaan laboratorium pada kehamilan, pemeriksaan laboratorium pra-nikah
  6. Pemeriksaan faeces
  7. Pemeriksaan analisa cairan otak
  8. analisa getah lambung, duodenum, dan cairan empedu
  9. Pemeriksaan laboratorium lainnya seperti analisa sperma, batu empedu, cairan pleura, batu ginjal, sputum.

 

Perlu diingat bahwa penentuan diagnosis suatu penyakit harus dilihat pada penemuan klinis yang didapat, bukan hanya dari pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium hanya sebagai pemeriksaan penunjang untuk diagnosis suatu penyakit.

 

 

 

Daftar Pustaka

 

    Carl E Speicher,M.D, pemilihan uji laboratorium yang efektif, EGC-Jakarta, Edisi ke-1,  halaman 9-15,35-40. 

    Ronald A Spacher, Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium, EGC-Jakarta, Edisi  ke-2, halaman 14.

 

 

 

sumber : detik.com

Fransisco Darjan

Staf bagian promosi kesehatan Di Puskesmas Bakunase

puskbks.dinkes-kotakupang.web.id | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Terbaru dari Fransisco Darjan

Artikel Terkait